Selasa, 16 Agustus 2011

Menata Hati Menggapai Ridla Ilahi

1.     Menata hati menggapai ridla Ilahi Oleh DR.Harapandi Dahri
2.     Muqaddimah
o    (lngatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci (Qalbun Salim) . Makna datang kepada Tuhannya adalah mengikhlaskan hatinya kepada Allah dengan sepenuh-penuhnya (As-Shaffat/37:84) Rasulullah SAW bersabda; Istafti Qalbak (mintalah fatwa –berkonsultasilah—dengan hati nuranimu dalam seluruh persoalan kehidupan)
o    Dialah yang membuat yang tidak ada menjadi tampak nyata, dan meskipun nyata ada , Dia pulalah yang membuatnya menjadi tidak tampak (jalal al-Din Rumi)
o    Semua yang tampak berasal dari sesuatu yang tidak tampak, semua yang bisa dilihat berawal dari sesuatu yang tidak basa dilihat (Erbe Sentanu)
3.     Hati Adalah Pusat Makna Tertinggi
o    Hati nurani adalah pusat makna tertinggi kehidupan manusia atau “ the ultimate meaning ” yang paling berpengaruh dalam diri kita. Sedangkan otak adalah hamba yang sangat patuh mengikuti setiap perintah hati nurani kita dalam kehidupan.
o    Fisika Newton (tampak) terdapat empat tingkatan benda mulai dari partikel, atom, molekul, dan benda yang bisa dicermati dengan mata kepala tanpa bantuan alat apapun. Fisika Quantum (tak tampak) terdapat dua level --yang sangat menentukan dan berada pada garis tak terpisahkan dari fisika Newton—Quanta dan Energi Vibrasi.
4.     Fisika Quantum
o    Semua kenyataan yang terlihat sesungguhnya hanyalah ilusi, sebuah tipuan mata yang sangat kuat dan sulit dihapuskan. Apa yang terlihat di alam sadar kita ini merupakan bentukan dari Vibrasi Quanta yang ada dibawah alam sadar kita. Vibrasi Quanta dalam sitilah agama dapat disebut sebagai hati nurani manusia yang berfungsi sebagai energi potensial yang dapat dikembangkan dan memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Sehingga keberhasilan dan kegagalan manusia sangat ditentukan oleh daya fungsi “Hati Nurani”.
5.     Hati dalam dunia Tasawuf
o    Dalam dunia tasawuf “Hati Nurani” bagaikan singgasana Allah yang siap menerima kehadiran orang-orang yang connected denganNya. media connected yang paling efefktif adalah Salat lima waktu. Ujibu Da’watad Da’i idza da’ani , oleh karenanya berdoa dan meminta sesuatu harus ke hadiratnya, Iyya kana’budu wa Iyya ka Nasta’in.
6.     Sukses Dimulai Dari Dalam Diri
o    William James berkata, "Penelitian terbesar dari generasi saya adalah bahwa manusia dapat mengubah hidupnya dengan mengubah sikapnya."
o    Keberhasilan dan kegagalan diciptakan oleh kita sendiri bukan orang lain, kehadiran orang lain dalam diri seseorang hanya sebatas memberikan stimulus dan rangsangan untuk berhasil ataukah gagal. Yang tahu diri kita adalah kita sendiri dan Allah SWT, lainnya tidak.
7.     Lanjutan
o    Pikiran bawah sadar yang dimiliki manusia proporsinya jauh mengungguli pikiran alam sadar 80 % berbanding 20%. Yang selalu kita tuju dan fokukan adalah pikiran yang ada di alam sadar padahal jumlahnya jauh dibawah alam bawah sadar. Jika saja manusia menyadari bahwa apa yang ada pada alam bawah sadar lebih berpotensi untuk menjadikannya sebagai makhluk yang sempurna maka kita tidak akan pernah menyia-nyiakan peluang untuk menjadi Insan al-Kamil.
8.     Lanjutan 3
o    Sadar terhadap alam bawah sadar inilah yang perlu di bangkitkan melalui proses penghambaan secara totalitas kepada Allah semata dan juga melalui instrospeksi aktif terhadap apapun yang di inginkan oleh ”Hati Nurani” kita.
o    Demikian sebaliknya, semakin hati dan pikiran kita dipenuhi oleh sesuatu yang melemahkan kita seperti “ Mana mungkin saya bisa menang, mana mungkin saya bisa sukses”, hampir dipastikan Anda tidak akan menjadi pemenang.
9.     Apa hakikat kesuksesan
o    Ukuran kesuksesan seringkali kita identikkan dengan harta benda yang berlimpah, pangkat dan jabatan yang tinggi, rumah besar dan megah, mobil mewah, anak yang patuh dan berprestasi tinggi, keluarga harmonis tanpa pernah berselisih paham dan lain sebagainya. Namun setelah kita merenungkan apa kesuksesan tersebut sudah pula membawa kebahagiaan, ketenangan, kedekatan kita dengan Sang Khaliq semakin tinggi ataukah semakin menjauh?.
10.   Tahapan Kesuksesan
o    Jadi apa hakikat kesuksesan yang kita cari?. Sukses sejati terletak pada kemampuan anda merasakan pikiran bahagia, perasaan dekat –sedekat mungkin—dengan Allah adalah indikator sukses, merasakan pada kekayaan yang kita miliki terdapat hak-hak orang lain yang harus kita selesaikan.
o    Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan untuk merasakan kesuksesan yang abadi seperti yang dipersepsikan oleh Allah dan rasulNya, Allah telah menggariskan dan memberikan resepNya;
11.   lanjutan
o    pertama , Alaa Bizikrillah Tathmainnal Qulub ;”Hendaklah mengingat Allah niscaya hati nurani akan menjadi tenang dan bahagia. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
12.   lanjutan
o    Kedua ; Lain Syakartum Laazidannakum Walain Kafartum Inna Azabi Lasyadid . selalu bersyukur terhadap segala anugerah Allah walau sebesar biji zarrah (sawi). Orang yang tidak pernah bisa bersyukur terhadap anugerah Allah yang paling kecil maka dia tidak akan pernah bisa bersyukur terhadap pemberian Allah yang lebih besar. Realisasi Syukur dapat dilihat dari perlakuan kita terhadap sesama makhluk Allah. Berbagi sesama makhluk Allah akan memberikan kebahagiaan tersendiri dalam hati sanubari kita.
13.   Lanjutan
o    Ketiga ; Ridla terhadap segala apa yang telah digariskan Allah SWT. Ridla terhadap ketentuan Allah dapat berarti bahwa jika kita beranggapan segala kejadian yang ditimpakan kepada kita berasal dari Yang Maha Quddus dan Maha Esa, maka mengapa perlakuan kita terhadap musibah harus berbeda dibandingkan perlakuan kita terhadap nikmat Allah?.
o    Keempat ; berusaha untuk selalu tenang dalam menyikapi persoalan hidup, seseorang yang berusaha untuk tenang maka akan dengan mudah dapat menerima segala ketentuan Allah SWT yang pada akhirnya sampai ketingkat Ridla. Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya (Al-Fajr/89:27-28)
14.   Ridla Allah sebagai Manifestasi MahabbahNya
o    رضيت بالله ربا وبا لأسلام دينا وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا ورســولا
o    Aku telah ridla Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul anutanku
15.   lanjutan
o    Ridla Allah fi Ridla al-Walidain wa Suhtu Allah fi Suhti al-Walidain (Ke-Ridla-an Allah sangat tergantung pada ke-ridla-an ibu bapak, demikian juga kemurkaan Allah sangat terkait dengan kemurkaan kedua orang tua)
16.   Al-Ridla Allah dapat dilihat dalam berbagai persepsi
o    Al-Ridla bi Qadlaillah; ridla dari ketentuan Allah bisa termanifestasi dalam dua tingkatan, pertama tingkatan ridla yang berarti ketenangan hati yang diakibatkan oleh sikap penerimaan seseorang terhadap ketentuan yang telah digariskan Allah SWT dengan tidak memperdulikan segala penderitaan yang dialaminya, baginya tidak dibedakan antara nikmat dan musibah karena sama-sama datang dan berasal dari Allah Yang Maha Quddus. kedua tingkatan sabar adalah menahan segala keluh-kesah dan penderitaan yang dialaminya.
o    Ridla Allah sebagai manifestasi Cinta Allah; jika Allah mencintai hambaNya pasti diberikan ujian terlebih dahulu, jika seseorang dapat bertahan dan tidak mengeluh dengan ujian yang diberikan maka dia akan mendapatkan ridlanya Allah dan jika tidak tahan maka ia akan diturunkan derajatnya. Ibnu Mas’ud berkata sesunggunya Allah menjadikan al-yaqin dan al-ridla sebagai media ketenangan dan kebahagiaan sementara ke-ragu-an ( al-Syak ) dan kebencian ( al-Sukht ) menjadi media kesengsaraan dan kesedihan.
17.   lanjutan
o    Ridla Allah dapat berarti; Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya) Al-Fath/48:4 dan 18.
18.   lanjutan
o    Al-Ridla bi Allah; orang tidak akan pernah bisa ridla terhadap segala ketentuan Allah SWT sebelum bersikap tawakal dengan sungguh-sungguh. Orang yang mampu bersikap ridla terhadap ketentuan Allah akan mendapatkan ganjaran pahala dan memperoleh posisi yang sangat agung disisiNya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya”.
o    Ibnul Qayyim mengatakan;”al-Ridla merupakan pintu Allah yang sangat mulia, surga Allah di dunia, peristirahatan orang-orang arif, kehidupan para pencinta, kebahagiaan ahli Ibadah, dan dambaan orang-orang yang rindu kehadiran Allah dalam dirinya.
19.   Penutup
o    Al-Ridla bi Allah Rabba; konsep ini mengajarkan bahwa untuk menggapai ridla Allah dengan mengaplik

RAHSIA WUDU DAN KEKUATAN TANGAN

Oleh Mawlana Shaykh Hisham al-Kabbani

Langkah Pertama: mengerti wudu dan pentingnya tanganAllah (swt) menunjukkan kepada kita apa yang benar apa yang salah. Dan apa yang benar telah dijelaskan dengan sangat baik oleh Nabi (s.a.w.), dan apa yang salah telah dijelaskan dengan baik sekali oleh Nabi (s.a.w.). Dan apa yang menguntungkan kita, Nabi s.a.w. adalah yang pertama kali menjelaskannya. Wa ma arsalnaaka illa rahmatan lil `alameen. Apapun yang menguntungkan kita, dia bertanggung jawab untuk menyampaikannya, atau dia akan ditanya mengapa dia menyembunyikannya.

Allah (swt) mempercayakan kepada Nabi dengan apapun yang Dia ciptakan, dan apapun yang Dia ciptakan dilepaskan (dikeluarkan) melalui risalah Nabi. Jadi melalui risalah (pesan) Allah, Nabi s.a.w. mampu untuk mencapai setiap orang, baik selama waktu (hidup) nya maupun setelah waktu (hidup) nya. Dia adalah yang pertama kali mengajarkan kepada para Sahaba (r.a.) penggunaan energy dan apa yang tersedia dari berbagai kekuatan berbeda di sekitar kita di dunia ini.

Terdapat banyak cara yang ditunjukkan Nabi s.a.w. kepada kita dalam uapaya penyembuhan, salah satunya adalah yang diuraikan dalam Hadith orang buta yang meminta Nabi s.a.w. untuk memulihkan pandangan matanya. Nabi mengajarkan kepadanya doa untuk dibaca, tetapi dia tidak mengatakan kepadanya, Pergilah dan baca doa ini.” Dia s.a.w. berkata kepada orang buta itu, “Langkah pertama adalah pergilah ke tempat mengambil wudhu dan ambila wudhu.” Itu artinya wudhu adalah awal (pembukaan) dari penyembuhan untuk setiap penyakit. Jika kamu tidak memiliki wudhu, upayamu untuk menyembuhkan penyakit itu akan minimal.

Kemanapun kamu mencapai, tingkat tinggi dalam perjuangan melawan ego dan mencegah keinginan ego, gunakanlah kekuatan (wudhu) itu bila kamu menentang ego itu, bangunlah kekuatan itu lebih besar dan lebih besar lagi, ketika energy negative meninggal kan kamu, energy positive (akan) bertambah. Tetapi dengan (cara) wudhu yang ruibuan kali lebih kuat dari pada apa yang biasanya. Jadi Nabi (s.a.w.) berkata, “Pergilah ambil wudhu.”

Level pertama wudhu

Ketika kamu mengambil wudu, selain membaca niyyat apa yang pertama kali dikerjakan ? Itu adalah membasuh tangan sampai pergelangan, dan di antara jari-jemari. Ketika kamu membasuh kedua tangan, itu artinya gerak pertama yang kamu lakukan adalah menggunakan kedua tangan itu, jadi energy level pertama berada di kedua tangan. Itulah mengapa kamu melihat orang yang berusaha belajar dan mengutip cara-cara Islam, khususnya orang India dan China yang meyakini Bhuddism, pertama kali mereka gunakan kedua tangan mereka sebagai sebuah methoda untuk melepaskan energy dari tubuh mereka, karena mereka mengumpulkan energy melalui tubuh mereka seperti seperti sebuah piringan, atau sebuah parabola.

Mereka mengumpulkan energi ini dan melepaskannya melalui kedua tangan mereka. Tubuh bertindak sebagai sebuah penampung energy. Melalui olah gerak mereka yang beragam dari latihan berat kepada keseluruhan tubuh, mereka mulai mendapatkan energy jenis itu dan meng-konsentrasikannya dan melepasnya melalui kedua tangan mereka. Untuk menyembuhkan orang sakit. Tiap segala sesuatu yang mereka gunakan dalam penyembuhan memiliki efek penggunaan energy.

Contoh terbaik dari hal ini adalah pembedahan laser, yang melalui technology modern, menggunakan cahaya laser untuk menyembuhkan penyakit mata dan bahkan kebutaan. Mereka tidak lagi menggunakan peralatan (tangan), hanya laser. Jadi orang buta tadi, ketika dia bertanya kepada Nabi s.a.w., Nabi memberinya sebuah petunjuk kunci bahwa melalui pelepasan energy, kebutaan itu akan pergi. Empat belas abad yang lalu Nabi s.a.w. menyembuhkan kebutaan melalui energy. Jadi apa yang kita pelajari dari peristiwa ini ? Ambil wudhu, dan sucikan dirimu.

Itulah dia s.a.w. berkata, “Senjata yang melindungi kamu dari musuh adalah adalah wudhu.” Wudhu dapat melepaskan energy dan membakar (penyakit) nya dengan melepaskannya melalui kedua tangan. Orang buta itu belajar dari situ dan memanfa’atkannya, yang akan kita bicarakan kemudian.

Gerak wudhu

Orang (buta) tadi mengalami berbagai gerak yang berbeda-beda dan disembuhkan serta merta dari kebutaannya. Maka, ketika kamu mengambil wudhu :Basuhlah kedua tanganmu dan kemudian saling gosokkanlah keduanya; putarlah tangan kanan pada tangan kiri dan tangan kiri pada tangan kanan. Kamu tidak boleh memulai dari tangan kiri memutari tangan kanan; kamu harus memulai dengan tangan kanan memutari tangan kiri; kemudian, Bersihkan di antara jari-jemari dan jalin (silangkan)lah jari tangan satunya dengan jari tangan lainnya, berbentuk seperti ini, dengan jempol kanan berada di sebelah kiri dan jempol kiri berada di sebelah kanan.

Mereka menggunakan ini dalam methoda penyembuhan Buddhist tanpa mengetahui rahasia Islam. Mereka melepaskan energy ini ke daerah tubuh yang terkena penyakit. Pertama kali, kamu menggunakan sepuluh jari. Sepuluh (10) adalah kekuatan energy computer, satu dan nol. Energy itu yang Allah ajarkan kepada para programmer computer disalurkan kepada computers melalui tangan, dan kamu melihat semua keajaiban kekuatan computers. Jadi jika computer itu memiliki kekuatan besar, energy itu dapat juga disalurkan untuk penyembuhan. Merka menggunakan itu tanpa mengetahui sebab-musababnya; mereka tidak tahu aspek Islam nya, yang adalah satu dan nol. Itulah sebabnya jika kamu membuka tanganmu dan menarik sebuah garis yang menghubungkan ujung-ujung jari kamu akan melihat bahwa kamu membentuk sebuah lingkaran. Itu berdiameter 20 cm.

Jadi tangan mewakili tubuh, dan ketika kamu membuka tubuh untuk membentuk sebuah lingkaran, seluruh tubuh berada di dalam tangan, sebagaimana itu diajarkan dalam reflexology. Melalui berbagai titik yang berbeda pada tubuh, kamu dapat disembuhkan. Level lebih tinggi dalam reflexology adalah tidak menyentuh; dalam hal demikian, kedua tangan bertindak sebagai semacam penerima energy positive, dan ketika kedua tangan direntangkan seperti sebuah piringan satellite (sebagaimana diajarkan dalam penyembuhan Islamic), tanpa berpikir atau berkhayal, namun menempatkan tubuhmu sebagai sebuah lingkaran sempurna, energy yang dipancarkan dari cosmos disalurkan kepadamu dan tubuhmu menerimanya, menyerapnya masuk kedalam tubuhmu dan mengkonsentrasi kannya melalui jantung. Ini adalah sebuah teknik meditasi 15-menit yang akan kita bicarakan nanti.

Secara symbolis, inilah bagaimana seluruh tubuh adalah sebuah lingkaran dan tangan adalah sebuah lingkaran. Tubuh itu mendapatkan energy itu, menerimanya dari tangan kiri dan tangan kanan, dan menyalurkannya kedalam tubuh. Jadi ketika kamu mulai membasuh kedua tangan dan menggosokkannya untuk meng-aktivkan mereka, itu adalah isyarat tentang satu dan nol, dan kamu sesungguhnya meng-aktivkan kode yang Allah telah berikan kepada kita melalui kedua tangan itu. Itulah sebabnya kita mulai menggosok kanan mengelilingi kiri dan kiri mengelilingi kanan.

Jika kamu berdiri di hadapan sebuah cermin, kamu melihat pada refleksi (bayangan) mu bahwa kiri adalah kanan dan kanan adalah kiri. Jika kamu berdiri dengan lengan direntangkan ke samping, kamu melihat lawannya. Jika kamu melihat dari sisi lainnya itu, kiri menjadi kanan dan kanan menjadi kiri. Itu karena kita adalah sebuah bayangan dari kenyataan (hakikat).

Di Langit (Surga) kiri adalah kanan dan kanan adalah kiri. Ini artinya kanan harus tunduk kepada kiri, karena dalam `alam al-arwaah, kanan adalah kiri dan kiri adalah kanan. Disini di dunya adalah lawannya : kanan adalah kiri, sedangkan di akhira kiri adalah kanan! Disini di dunya, ketika kita membuat thawaaf keliling Ka’aba Shareef kita bergerak berlawanan arah jarum jam, bukan searah jarum jam, yang adalah bayangan cermin dari arah jarum jam di akhira, dimana kita bergerak kiri ke kanan : searah jarum jam. Untuk meng-aktivkan kekuatan itu, Allah memberi tahu kita, “Aku meng-aktivkan kekuatanmu dari 99 asma’ul-husna yang Aku stempelkan pada kedua tanganmu.

” Menggosok menimbulkan api dari dua batang kayu. Menggosok menimbulkan energy. Dengan menggosok kedua tangan selama wudu, air mencegah energy dari merembes keluar; itu membekukannya. Itulah sebabnya Silah al-mumin al-wudu (senjata kaum beriman adalah wudhu.) Segera setelah kamu menggosok, itu menimbul kan energy dan dengan menggosok di bawah pancuran air itu akan menahan energy di dalam tubuh untuk dilepaskan kemudian. Ketika kita menggosok kedua tangan kita mempersiapkan energy untuk disimpan dan ditabung untuk digunakan melawan musuh (kemudian).

Ketika kita mau menyembuhkan kita tidak menggunakan air, Menggunakan air sewaktu wudu, kita mengumpulkan dan menyimpan energy. Dalam penyembuhan, kita menggosok tanpa air dan membuka tangan untuk melepas kan energy itu. Bagaimana kode itu di-aktivkan ? Jika kamu melihat pada tangan kanan mu padanya terdapat angka Arabic 18 dan pada tangan kiri terdapat angka Arabic 81. 18 plus 81 menjadi 99 asma ‘ul-husna Allah, setiap angka teridiri dari satu (1) dan delapan (8). Satu plus delapan (18), dan delapan plus satu (81) bersama menjadi 99. Tambahkan komponen 99 kesemuanya (18 = 1+8 and 8+1 = 81) dan kamu mendapatkan 9 lagi.

Ini menjelaskan arti dari titik sembilan dari diri, yang mewakili sembilan awliya yang bertangtgung jawab terhadap diri. Titik sembilan ini digunakan di dalam Enneagram; sebuah ajaran dari Asia Tengah, dari orang Naqshbandi, yang pernah saya terangkan. Mereka menggunakan ini dalam sebuah cara (interpretasi) linear, padahal dalam kenyataannya itu adalah sebuah lingkarang (ingat pada pengertian thawaf ). Jika kamu membahas ini dengan , aku mengajarinya bagaimana menggunakan hal itu. Mereka memiliki sembilan titik peluru yang terdiri dari keseluruhan system, keseluruhan tubuh.

Ketika kamu menggosok-gosokkan jari tangan kamu meng-aktivkan 99 asma ‘ul-husna Allah, yang pada gilirannya meng-aktivkan titik sembilan itu yang berada di dalam tubuhmu. Dengan contoh kita dapat mengatakan apabila titik sembilan di-aktivkan, penerima itu kini dalam posisi “menyala”, energy masuk ke dalam (tubuh), itu mulai menerima, dan itu dibuat digital dan dilepaskan sebagai sebuah gambar dan sebuah suara, sangat mirip dengan yang kita lihat dalam masa kini dengan technology digital. Demikian juga, tangan itu adalah lingkaran, dan ketika kita menggosok-kan mereka dan membuka mereka (kedua tangan kita itu), mereka mulai bertindak sebagai lingkaran satu terhadap lainnya, mengambil energy apapun yang mereka terima dan mengelolanya.

Itulah sebabnya dalam ilmu bela diri mereka menggunakan kedua tangan, namun mereka tidak mengerti mengapa itu (kedua tangan) merupakan energy; mereka tidak mengerti tentang 99 asma ‘ul-husna dan bagaimana mereka dilindungi melalui oleh Asma itu. Mereka tidak tahu, meskipun demikian, Allah memberikan kepada siapapun yang Dia suka. Dia membiarkan mereka itu menggunakan kekuatan itu; mereka tahu terdapat kekuatan disitu, tetapi tidak tahu mengapa. Mereka membuat gerakan cepat dan menggunakan itu untuk membela diri mereka dan melindungi orang lain dan untuk mengalahkan musuh.

Ketika Nabi (s.a.w.) menyembuhkan mata Sayyidina `Ali, dia membuka baginya Ilmu Haqiqat itu. Itulah sebabnya melalui energy itu yang dimilikinya dalam kedua tangannya, dia dapat membawa (menyangga ? – penterjemah) dunia ke pada lututnya, karena energy itulah yang membawa dunia ke pada lututnya.Jadi ketika kamu meng-aktivkan angka 8 dan angka 1 dan angka 1 dan angka 8 (yang adalah 99 Asma), dalam numerology sembilan sama dengan nol dan kamu tidak menambah apapun dengan kedua (nol dan sembilan) angka itu, karena itu tidak lagi ada (exist). Itu berarti penyerahan diri, penyerahan diri secara sempurna, ketika kamu meng-aktivkan energy itu kamu dibawah penyerahan diri energy, berserah diri kepada energy Langit yang mendatangi. Menjadi sebuah pipa penyalur bagi energi cosmic penyembuh milik Allah.

Kamu tidak lagi melihat dirimu yang beraksi, namun energy itulah yang beraksi, kamu menjadi nol. Seperti memasuki sebuah pesawat terbang atau kereta api atau mobil; mereka masing-masing berserah diri kepada orang yang mengemudikan mereka. Kamu berserah diri kepada energy yang mendatangi dan kamu melepasnya ke luar. Tubuh mu menjadi seperti sebuah penerima dan sebuah pemantul. Penerima TV hanya bertindak sebagai penerima yang memantulkan citra (image) itu. Bukanlah mereka yang melakukan pekerjaan itu; itu adalah energy Langit yang melakukan pekerjaan itu.

Itu menunjukkan kepada kita seberapa jauh kita dapat menggunakan dengan angka-angka ini ketika kita meng-akltivkan mereka serentak – angka 18 dan angka 81 dan pentingnya angka 18 dan angka 81. Kita akan tinggalkan hal itu sampai sessi berikutnya.Mengapa angka 18 dan mengapa angaka 81? Ini adalah penting, dan bahkan saya tidak tahu apa yang akan datang. Itu adalah sebuah perkenalan kepada techniques berbeda-beda yang mereka mencoba untuk mengutipnya tanpa mengerti latar belakangnya, dan bagaimana mereka dapat memberikan pengaruh lebih banyak melalui penyembuhan mereka.

Jadi setelah menggosokkan kedua tangan dan menyelenggarakan penyaluran energy, kamu masih berakhir pada angka 19. (Disini (kanan) adalah angka 18 dan disini (kiri) angka 81. Gabungkan mereka dan kamu mendapatkan angka 99. Tambahkan angka 9 dan angka 9 ini, kamu mendapat angka 18. Tambahkan angka 1 dan angka 8, kamu mendapatkan angka 9. Jadi kamu meng-aktivkan angka 9.)

Ketika kamu menggosok dan meng-aktivkan angka sembilan itu, kini kamu melewatkan (mengucurkan) air itu (jika kamu memperhatikan, mereka yang tahu bagaimana mengambil wudhu, tidak semua orang tahu untuk saling menyilangkan jari), maka kamu meng-aktivkan angka 10. Angka 10 dan angka sembilan, menjadi angka 19. Dan akhir-akhir ini mereka mendapatkan bahwa setiap ayat dalam al Qur’an adalah pada sistem 19. Dan angka 19 ini, wa yahmilu arsh arrahmani yawmadhin thamaaniyya. “…dan delapan akan, Hari itu, menyangga Singgasana dari Rabb-mu di atas mereka. (69:17) Dan mereka yang memegangi Neraka adalah 19.

Neraka adalah energy, jadi itu adalah kekuatan energy. Kamu meng- aktivkan energy negative untuk menyembuhkan energy negative. Kamu memerlukan racun untuk menyembuhkan racun – itulah sebabnya mereka memberikan kamu antibiotics (jika kamu keracunan oleh ulah virus – penterjemah). Angka 19 itu adalah jumlah malaikat yang bertanggung jawab terhadap Neraka. Jadi kamu menggunakan energy negative itu yang datang dari mereka ini. Jika kamu mengalikan (negative – penterjemah) dengan negative kamu mendapatkan positive. Kamu menyembuhkan penyakit dengan api yang datang dari Neraka.

Ketika energy itu dilepaskan, itu sama sekali mengkancurkan racun di dalam system itu. Begitulah caranya kamu meng-aktivkan 19 serentak. Angka 8, yang terkait dengan angka 8 disini, angka 1 dan angka 8 dan angka 8 dan angka 1. Ketika Singgasana Allah datang pada Hari Pengadilan, delapan malaikat memikulnya. Itu artinya mereka memikul angka 1 itu; angka 8 memikul angka 1. Allah mengungkapkan hal ini di dalam kedua tangan kita. Kamu juga meng-aktivkan energy baik ketika kamu melepaskannya. Setelah kamu menghancurkan energi negative dengan energy negative, kamu mau mendandani (memberi busana) mereka dengan angka 8 dan angka 1 (energy baik dari Langit). Itulah sebabnya orang yang sakit merasa kuat dan bahwa merekadisembuhkan.

Ketika kamu meng-aktivkan energy Langit dengan menggosok-gosokkan kedua tangan, kamu meng-aktivkan angka sembilan; itu adalah penyerahan diri yang sempurna. Kini kamu membiarkan tubuhmu untuk berserah diri kepada energy cosmic yang kamu terima, yang adalah energyy yang membakar. Ketika kamu meng-aktivkan angka 10 kamu meng-aktivkan energy itu. Energy negative ini tidaklah buruk karena itu adalah kekuatan dari satu yang negative, dan kamu mengalah kan musuh dengan menggunakan alat yang dipakai musuh. Sebagai contoh hal ini adalah energy dari matahari yang adalah satu energy api, tetapi pada saat yang bersamaan itu menyembuhkan dan berguna. Kamu menggunakan negative untuk menyembuhkan negative untuk menghancurkanya sama sekali. Dengan cara ini, kamu tidak menyisakan apa-apa dengan mereka (membersihkannya), dan kemudian ativkan angka 8 dan angka 1. Insha`Allah kita akan teruskan dengan lebih banyak lagi mengenai penyembuhan ini segera. Bi hurmat al-habib bi hurmat al-Fatiha.

Jumat, 12 Agustus 2011

Mengungkap Kebenaran Misteri 7 Lapisan Langit

Bila anda belum membaca postingan saya sebelumnya, dianjurkan baca dulu karena di khawatirkan kurang nyambung dengan tulisan yang akan saya sampaikan ini.  Pada tulisan sebelumnya saya menulis tentang Misteri Luas Alam Semesta dan Ramalan Perbintangan.  Pada tulisan ini saya mau mencoba menggali kebenaran dari 7 lapis langit seperti yang diceritakan dalam kisah perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Tulisan ini dimaksudkan bukan untuk mencari kebenaran dan mematahkannya tetapi mencari kebenaran dari teori dan cerita yang pernah didengar oleh saya sebelumnya.  Jadi anggaplah ini sekedar cerita atau sharing yang letak kebenaran sesungguhnya ada didalam kalbu kita masing2.  Ehm… langsung aja kita mulai ceritanya… duduk yang manis dan jangan melotot kayak gitu, jangan lupa sediakan kopi jadi bisa baca sambil ngopi.. :D
O ya, buat yang non muslim juga boleh membaca tulisan ini, siapa tahu bisa menjawab keraguan anda dan mohon jangan diperdebatkan.. cukup kita fikirkan kebenarannya gitu aja.. karena kita sesama mahluk ciptaan Tuhan diberikan akal dan fikiran, ingat musuh utama kita bukan perbedaan akan tetapi Setan.. okeh?  Sekali lagi tulisan ini saya rangkum dari sumbernya dan bukan sepenuhnya saya tulis, namun ada beberapa pendapat yang saya tuliskan disini.
7 lapisan langit dan kaitannya dengan dimensi
Sekarang kita bicarakan dari segi ilmu manusia, dan mudah2an ini bisa dipahami… karena gw sendiri berkunang2 waktu mempelajari dan membacanya..he..
Bila membaca sejarah Isra’ Mi’raj nabi, kemungkinan yang dimaksud 7 lapisan langit di sini bukan berarti langit tersebut menumpuk secara berlapis-lapis seperti kue lapis, tapi ketujuh lapisan tersebut semakin meningkat kedudukannya sesuai dengan bertambah tingkat dimensinya.
Pertambahan tingkat dimensi ketujuh lapisan langit tersebut hanya bisa digambarkan dengan memproyeksikannya ke langit pertama (dimensi ruang yang dihuni oleh kita) yang berdimensi tiga. Karena hanya ruang berdimensi tiga inilah yang bisa difahami oleh kita. Secara analog, kita bisa membuat perumpamaan sebagai berikut :

Pada gambar 1 tampak bahwa sebuah garis berdimensi 1 tersusun dari titik-titik dalam jumlah tak terbatas. Sama kayak istilah pixel dalam desain grafis, dimana gambar yang tercipta adalah himpunan titik2 yang sangat banyak dan dengan warna yang beragam sehingga membentuk pola tertentu menjadi gambar.  Titik2 ini akan membentuk garis yang kemudian garis-garis tersebut disusun dalam jumlah tak terbatas hingga menjadi sebuah luasan berdimensi 2 (Gambar 2). Dan jika luasan-luasan serupa ini ditumpuk ke atas dalam jumlah yang tak terbatas, maka akan terbentuk sebuah balok (ruang berdimensi 3).
Kesimpulannya adalah sebuah ruang berdimensi tertentu tersusun oleh ruang berdimensi lebih rendah dalam jumlah yang tidak terbatas. Atau dengan kata lain ruang yang berdimensi lebih rendah dalam jumlah yang tidak terbatas akan menyusun menjadi ruang berdimensi yang lebih tinggi. Misalnya, ruang 3 dimensi – dimensi ruang yang sekarang dihuni oleh kita ini – dengan jumlah tak terbatas menyusun menjadi satu ruang berdimensi empat.  Demikian seterusnya sehingga setiap dimensi yang satu dengan yang lain saling berkaitan.
Berdasarkan kesimpulan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
Langit pertama
Ruang berdimensi 3 yang dihuni oleh makhluk berdimensi 3, yakni manusia, binatang, tumbuhan dan lain-lain yang tinggal di bumi beserta benda-benda angkasa lainnya dalam jumlah yang tak terbatas. Namun hanya satu lapisan ruang berdimensi 3 yang diketahui berpenghuni, dan bersama-sama dengan ruang berdimensi 3 lainnya.  Jadi dimensi 3 adalah dimensi yang sangat kasar dan padat, sehingga dapat diraba dan dilihat dengan kasat mata. Alam semesta kita ini menjadi penyusun langit kedua yang berdimensi 4.  Benarkah demikian? Mari difikirkan bersama kebenarannya..
Langit kedua
Ruang berdimensi 4 yang dihuni oleh bangsa jin beserta makhluk berdimensi 4 lainnya. Sehingga mahluk di dimensi 3 tidak akan bisa melihat mahluk di dimensi 4, tetapi mahluk dimensi 4 kemungkinan bisa melihat mahluk dimensi 3.  Ruang berdimensi 4 ini bersama-sama dengan ruang berdimensi 4 lainnya membentuk langit yang lebih tinggi, yaitu langit ketiga.
Langit ketiga
Ruang berdimensi 5 yang di dalamnya “hidup” arwah dari orang-orang yang sudah meninggal atau mungkin alam kubur.  Mereka juga menempati langit keempat sampai dengan langit keenam tergantung tingkatannya. Dalam perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad, diceritakan bahwa Rasulullah bertemu dengan nabi2 terdahulu yang berbeda2 disetiap lapisannya.  Langit ketiga ini bersama-sama dengan langit ketiga lainnya menyusun langit keempat dan seterusnya hingga langit ketujuh yang berdimensi 9.
Bisa dibayangkan betapa besarnya langit ketujuh itu. Karena ia adalah jumlah kelipatan tak terbatas dari langit dunia (langit pertama) yang dihuni oleh manusia. Berarti langit dunia kita ini berada dalam struktur langit yang enam lainnya, termasuk langit yang ketujuh ini. Jika alam akhirat, surga dan neraka terdapat di langit ke tujuh, maka bisa dikatakan surga dan neraka itu begitu dekat dengan dunia kita tapi berbeda dimensi.
Seperti disebutkan sebelumnya bahwa langit dunia kita ini merupakan bagian dari struktur langit ketujuh. Berarti alam dunia ini merupakan bagian terkecil dari alam akhirat. Penjelasan ini sesuai dengan hadist Nabi:
“Perbandingan antara alam dunia dan akhirat adalah seperti air samudera, celupkanlah jarimu ke samudera, maka setetes air yang ada di jarimu itu adalah dunia, sedangkan air samudera yang sangat luas adalah akhirat”.
Perumpamaan setetes air samudera di ujung jari tersebut menggambarkan dua hal:
1.Ukuran alam dunia dibandingkan alam akhirat adalah seumpama setetes air di ujung jari dengan keseluruhan air dalam sebuah samudera. Hal ini adalah penggambaran yang luar biasa betapa luasnya alam akhirat itu.
2.Keberadaan alam dunia terhadap alam akhirat yang diibaratkan setetes air berada dalam samudera. Perumpamaan tersebut menunjukkan bahwa alam dunia merupakan bagian dari alam akhirat, hanya ukurannya yang tak terbatas kecilnya. Begitu juga dengan kualitas dan ukuran segala hal, baik itu kebahagiaan, kesengsaraan, rasa sakit, jarak, panas api, dan lain sebagainya, di mana ukuran yang dirasakan di alam dunia hanyalah sedikit sekali.
Berbagai ruang dimensi dan interaksi antar makhluk penghuninya
1. Langit pertama atau langit dunia
Seperti disebutkan pada ayat 11-12 Surat Fushshilat di atas, maka yang disebut langit yang dekat tersebut adalah langit dunia kita ini atau disebut juga alam semesta kita ini. Digambarkan bahwa langit yang dekat itu dihiasi dengan bintang-bintang yang cemerlang, dan memang itulah isi yang utama dari alam semesta. Bintang-bintang membentuk galaksi dan kluster hingga superkluster. Planet-planet sesungguhnya hanyalah pecahan dari bintang-bintang itu. Seperti tata surya kita, matahari adalah sebuah bintang dan sembilan planet yang mengikatinya adalah pecahannya, atau pecahan bintang terdekat lainnya. Sedangkan tokoh utama di langit pertama ini adalah kita manusia yang mendiami bumi, planet anggota tata surya.
Langit pertama ini tidak terbatas namun berhingga. Artinya batasan luasnya tidak diketahui tapi sudah bisa dipastikan ada ujungnya. Diperkirakan diameter alam semesta mencapai 30 miliar tahun cahaya. Artinya jika cahaya dengan kecepatannya 300 ribu km/detik melintas dari ujung yang satu ke ujung lainnya, maka dibutuhkan waktu 30 miliar tahun untuk menempuhnya.

Penjelasan gambar:
Apabila digambarkan bentuknya kira-kira seperti sebuah bola dengan bintik-bintik di permukaannya. Di mana bintik-bintik tersebut adalah bumi dan benda-benda angkasa lainnya. Apabila kita berjalan mengelilingi permukaan bola berkeliling, akhirnya kita akan kembali ke titik yang sama. Permukaan bola tersebut adalah dua dimensi. Sedangkan alam semesta yang sesungguhnya adalah ruang tiga dimensi yang melengkung seperti permukaan balon itu. Jadi penggambarannya sangat sulit sekali sehingga diperumpamakan dengan sisi bola yang dua dimensi agar memudahkan penjelasannya.
2. Langit kedua
Seperti diterangkan sebelumnya bahwa setiap lapisan langit tersusun secara dimensional. Diasumsikan bahwa pertambahan dimensi setiap lapisan adalah 1 dimensi. Jadi apabila langit pertama atau langit dunia kita ini berdimensi 3, maka langit kedua berdimensi 4. Langit kedua ini kemungkinan dihuni oleh makhluk berdimensi 4, yakni bangsa jin.

Penjelasan gambar:
Apabila digambarkan posisi langit kedua terhadap langit pertama adalah seperti gambaran balon pertama tadi. Di mana bagian permukaan bola berdimensi 2 adalah alam dunia kita yang berdimensi 3, sedangkan ruangan di dalam balon yang berdimensi 3 adalah langit kedua berdimensi 4. Jadi apabila kita melintasi alam dunia harus mengikuti lengkungan bola, akibatnya perjalanan dari satu titik ke titik lainnya harus menempuh jarak yang jauh. Sedangkan bagi bangsa jin yang berdimensi 4 mereka bisa dengan mudah mengambil jalan pintas memotong di tengah bola, sehingga jarak tempuh menjadi lebih dekat.
Deskripsi lain adalah seperti gambar berikut:
Bayangkanlah permukaan tembok dan sebuah ruangan yang dikelilingi oleh dinding-dindingnya. Umpamakan ada dua jenis makhluk yang tinggal di sana. Makhluk pertama adalah makhluk bayang-bayang yang hidup di permukaan tembok berdimensi 2. Sedangkan makhluk kedua adalah makhluk balok berdimensi 3. Ingatlah analogi alam berdimensi 3 dengan makhluk manusianya adalah permukaan tembok dan makhluk bayang-bayangnya, sedangkan alam berdimensi 4 dan makhluk jinnya adalah ruangan berdimensi 3 dengan baloknya.
Tampak dengan mudah dilihat bahwa kedua alam berdampingan dan kedua makhluk hidup di alam yang berbeda. Kedua makhluk juga mempunyai dimensi yang berbeda, bayang-bayang berdimensi 2 sedangkan balok berdimensi 3. Makhluk berdimensi 2, yaitu bayang-bayang tidak bisa memasuki ruangan berdimensi 3, dia tetap berada di tembok, sedangkan makhluk berdimensi 3 yakni balok dapat memasuki alam berdimensi 2, yakni tembok. Bagaimanakah caranya balok bisa memasuki dinding yang berdimensi 2?
Balok yang berdimensi 3 memiliki permukaan berdimensi 2 yakni bagian sisi-sisinya. Apabila si balok ingin memasuki alam berdimensi dua, dia cukup menempelkan bagian sisinya yang berdimensi 2 ke permukaan tembok. Bagian sisi balok sudah memasuki alam berdimensi 2 permukaan tembok. Bagian sisi balok ini dapat dilihat oleh makhluk bayang-bayang di tembok sebagai makhluk berdimensi 2 juga. Analoginya adalah jin yang dilihat oleh kita penampakannya di alam dunia sebenarnya berdimensi 4 tetapi oleh indera kita dilihat sebagai makhluk berdimensi 3 seperti tampaknya sosok kita manusia.
3. Langit ketiga sampai dengan langit ketujuh
Langit ketiga sampai dengan keenam dihuni oleh arwah-arwah, sedangkan langit ke tujuh adalah alam akhirat dengan surga dan nerakanya. Analoginya sama dengan langit kedua di atas, karena pengetahuan kita hanya sampai kepada alam berdimensi 3.
Dapat diartikan bahwa sebenarnya alam semesta ini ada dalam satu ruang lingkup namun berbeda tingkatannya.  Tingkatan yang dimaksud disini adalah tingkatan kepadatan partikel dan dimensi penyusun bentuk atau zatnya.  Dengan demikian, dunia tempat kita berpijak ini titik koordinatnya sama dengan dunia pada dimensi lain hanya saja terpisah alam atau dimensi.  Nah, cerita ini agak sedikit berbeda ni dengan yang pernah saya tulis di Misteri Luas Alam Semesta dan Ramalan Perbintangan (2).
Tingkatan Mahluk dan Unsur Kehidupan
Ini dari pendapat saya sendiri setelah mengamati dan membaca banyak buku kemungkinan mahluk hidup yang ada dialam semesta ini tercipta dari beberapa tingkatan partikel atau penyusun jasadnya.  Dari adanya perbedaan dimensi tersebut maka dapat difikirkan bahwa mahluk hidup dan unsurnya juga memiliki beberapa tingkatan.  Mulai dari unsur yang keras dan padat, cair, gas, dan cahaya.  Partikel yang paling padat adalah benda keras dan tampak dengan kasat mata seperti kita manusia yang terbentuk dari banyak partikel padat, tanah, batu, pasir, debu, termasuk air, sedangkan partikel padat yang paling kecil adalah gas.  Mahluk yang tercipta dari partikel padat ini adalah seperti manusia, hewan, tumbuhan, beserta semua benda yang ada di alam semesta Dimensi 3 kita ini.
Partikel kedua adalah partikel halus yang tidak kasat mata seperti listrik, bau, suara, angin atau udara, partikel ini memiliki unsur penyusun tetapi sangatlah halus atau ghaib.  Misalnya listrik yang tersusun dari ion2 positif dan negatif, dan udara yang merupakan partikel ringan yang melayang atau Oksigen.  Partikel ini tidak dapat ditangkap dan dilihat tetapi dapat dirasakan serta dapat juga memberikan sentuhan, dorongan, panas, dingin, serta getaran.  Misalnya angin yang bergesek dengan benda padat akan menghasilkan suara, demikian pula suara yang kita keluarkan dari mulut adalah hasil gesekan antara angin yang keluar dari paru2 kita dengan pita suara.
Partikel yang paling halus lagi adalah api, dimana api ini sifatnya hidup, membutuhkan oksigen dan mengeluarkan unsur panas.  Api tidak dapat disentuh tetapi dapat dilihat karena adanya cahaya yang merupakan hasil dari pembakarannya dan dapat dirasakan yakni adanya panas.  Api juga memiliki warna sehingga cahaya yang dihasilkannya juga bisa menghasilkan warna tergantung unsur pembakarnya.  Mahluk yang tercipta dari api ini adalah sebangsa jin yang berada di Dimensi 4.
Partikel yang sangat halus adalah cahaya, cahaya ini sebenarnya berasal dari adanya api atau pembakaran.  Cahaya tidak terpengaruh dengan hukum2 fisika dan momentum.  Cahaya dapat mengisi ruang gelap, dan dapat pula berwarna sesuai dengan warna dari unsur padat yang dipantulkannya.  Cahaya tidak dapat dipegang, kalaupun bisa dilihat sifatnya adalah semu… dan tidak bisa kita gambarkan dengan rumus kimia apapun.  Mahluk yang tercipta dari cahaya ini adalah bangsa Malaikat dan berada di Dimensi 9.
Selanjutnya ada lagi yang misteri, yaitu ruh… apakah ruh ini bisa digambarkan dengan lugas seperti yang dijelaskan dalam dimensi2 diatas?  Kemungkinan, ruh ini lebih halus lagi dari semua unsur yang kita kenal.. ruh inilah yang hidup dan kekal tidak mati.  Artinya meskipun jasad kita telah mati, akan tetapi itu tidak berlaku pada ruh.  Apakah benar ruh juga berada pada dimensi yang berbeda seperti yang dijelaskan pada cerita diatas?  Ruh orang yang telah mati akan tertahan sementara di alam atau dimensi lain sebelum akhirnya nanti dikumpulkan dan dihidupkan kembali, yaitu alam barzah.  Benarkah..? ini opini berdasarkan yang pernah saya baca dan dengar saja.  Ruh ini tidak terpengaruh oleh waktu, sehingga sifatnya kekal.
Dengan demikian berarti kita manusia adalah mahluk yang paling rendah unsur penyusunnya, itulah sebabnya mengapa bangsa jin tidak mau bersujud dihadapan Adam karena mereka merasa bahwa mereka mahluk yang lebih tinggi dari manusia.  Tetapi dari semua mahluk ciptaan Allah SWT, ruh kita adalah sama meskipun unsur penyusunnya berbeda.  Benarkah demikian? Belum tahu kebenarannya ni karena belum ada juga dalil dan teorinya atau mungkin saya belum pernah baca kali ya?
Zat Sang Pencipta
Zat sang maha pencipta adalah zat yang maha mulia dan maha sempurna, kita tidak akan bisa mengetahui seperti apa zatnya dan seperti apa bentuknya.  Allah SWT tidak berada di dimensi manapun, tapi meliputi semua dimensi itu. Wajah Allah tidak serupa dengan wajah manapun. Dalam keberadaannya,Tuhan tidak bukan berada di sini bukan di situ, bukan begini bukan begitu. Tidak ada yang bisa menjelaskan kecuali Allah sendiri yg menjelaskan.
Muhammad SAW sendiri terpesona dan tidak mampu berkata apa-apa ketika berhadapan dengan Allah Swt, lalu beliau tersungkur dan tidak mampu memandang. Nabi Musa As pun tersungkur menatap kehadiran Allah di bukit Sinai, untuk itu Allah “terpaksa” menghadirkan simbol di dimensi ketiga berupa pancaran api yang membakar ilalang agar Musa sanggup menghadapinya.
Keajaiban Isra dan Miraj
Cerita mengenai luasnya alam semesta ini sebenarnya bisa dijelaskan melalui peristiwa perjalanan Rasulullah saat Isra’ Mi’raj… Saya aja baru menyadari akan hal ini, padahal dari kecil acara Isra’ Mi’raj selalu saya ikuti tapi maksudnya yang diambil hikmahnya hanya perintah menunaikan ibadah Sholat lima waktu.  Ternyata ada ilmu pengetahuannya juga bila kita lihat dari sudut pandang yang berbeda, yaitu segi keilmuan.
Allah Swt berfirman di dalam Alquran Surah Al-Israa’ ayat 1:
“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda–tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Dari ayat tersebut tampak jelas bahwa perjalanan luar biasa itu bukan kehendak dari Rasulullah Saw sendiri, tapi merupakan kehendak Allah Swt. Untuk keperluan itu Allah mengutus malaikat Jibril as (makhluk berdimensi 9) beserta malaikat lainnya sebagai pemandu perjalanan suci tersebut. Dipilihnya malaikat sebagai pengiring perjalanan Rasulullah Saw dimaksudkan untuk mempermudah perjalanan melintasi ruang waktu.
Selain Jibril as dan kawan-kawan, dihadirkan juga kendaraan khusus bernama Buraq, makhluk berbadan cahaya dari alam malakut. Nama Buraq berasal dari kata barqun yang berarti kilat. Perjalanan dari kota Makkah ke Palestina berkendaraan Buraq tersebut ditempuh dengan kecepatan cahaya, sekitar 300.000 kilo meter per detik.
Pertanyaan mendasar adalah bagaimanakah perjalanan dengan kecepatan cahaya itu dilakukan oleh badan Rasulullah Saw yang terbuat dari materi padat? Untuk malaikat dan Buraq tidak ada masalah karena badan mereka terbuat dari cahaya juga. Seandainya badan bermateri padat seperti tubuh kita dipaksakan bergerak dengan kecepatan cahaya, bisa diduga apa yang akan terjadi. Badan kita mungkin akan terserai berai karena ikatan antar molekul dan atom bisa terlepas.
Jawaban yang paling mungkin untuk pertanyaan itu adalah tubuh Rasulullah Saw diubah susunan materinya menjadi cahaya. Bagaimanakah hal itu mungkin terjadi?
Teori yang memungkinkan adalah teori Annihilasi. Teori ini mengatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materinya. Dan jika materi direaksikan dengan anti materinya, maka kedua partikel tersebut bisa lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gamma.
Hal ini telah dibuktikan di laboratorium nuklir bahwa jika partikel proton direaksikan dengan antiproton, atau elektron dengan positron (anti elektron), maka kedua pasangan tersebut akan lenyap dan memunculkan dua buah sinar gamma, dengan energi masing-masing 0,511 MeV (Multiexperiment Viewer) untuk pasangan partikel elektron, dan 938 MeV untuk pasangan partikel proton.
Sebaliknya apabila ada dua buah berkas sinar gamma dengan energi sebesar tersebut di atas dilewatkan melalui medan inti atom, maka tiba-tiba sinar tersebut lenyap berubah menjadi 2 buah pasangan partikel tersebut di atas. Hal ini menunjukkan bahwa materi bisa dirubah menjadi cahaya dengan cara tertentu yang disebut annihilasi dan sebaliknya.
Nah, kalau dihitung jarak Mekkah – Palestina sekitar 1500 km ditempuh dengan kecepatan cahaya, maka hanya dibutuhkan waktu sekitar 0,005 detik dalam ukuran waktu kita di bumi.
Sesampainya di Palestina tubuh Rasulullah Saw dikembalikan menjadi materi. Peristiwa ini mungkin lebih dikenal seperti teleportasi dalam teori fisika kwantum. Dari Palestina dilanjutkan dengan perjalanan antar dimensi ke Sidratul Muntaha, yakni dari langit dunia (langit pertama) ke langit kedua, ketiga sampai dengan langit ketujuh dan berakhir di Sidratul Muntaha.
Yang perlu dipahami adalah perjalanan antar dimensi bukanlah perjalanan berjarak jauh atau pengembaraan angkasa luar, melainkan perjalanan menembus batas dimensi. Karena walaupun tubuh Rasulullah Saw diubah menjadi cahaya seperti perjalanan dari Mekkah ke Palestina, tidak akan selesai menempuh perjalanan di langit pertama saja. Bukankah untuk menempuh diameter alam semesta diperlukan 30 miliar tahun dengan menggunakan kecepatan cahaya. Jadi bagaimana caranya?
Seperti telah disebutkan di atas dalam penjelasan posisi antar dimensi bahwa posisi langit kedua dengan langit pertama dianalogikan seperti sebuah ruangan berdimensi 3 dengan dinding tembok berdimensi 2. Makhluk bayangan berdimensi 2 di tembok tidak bisa memasuki ruangan berdimensi 3, kecuali ada bantuan dari makhluk berdimensi lebih tinggi, minimal dari makhluk berdimensi 3, yakni balok. Caranya si balok menempelkan salah satu sisinya ke tembok dan makhluk bayangan menempelkan diri ke sisi balok itu. Dengan menempel di sisi balok dan mengikutinya, makhluk bayangan bisa memasuki ruang berdimensi 3 dan meninggalkan wilayah berdimensi 2, yakni dinding tembok.
Begitulah kira-kira analogi bagaimana Rasulullah Saw melakukan perjalanan antar dimensi. Dengan kehendak Allah Swt, Jibril membawa Rasulullah Saw melakukan perjalanan dari langit pertama hingga langit ketujuh lalu ke Sidratul Muntaha. Perjalanan ini bukan perjalanan jauh seperti telah disebutkan tadi. Kejadian itu terjadi di tempat Rasulullah Saw terakhir duduk shalat di Masjidil Aqsa Palestina, karena ruang berdimensi 4, 5 dan seterusnya itu persis berada di sebelah kita, hanya kita tidak melihatnya dan tidak bisa mencapainya.
Wajar saja perjalanan Isra Miraj Rasulullah Saw dari Mekkah ke Palestina dan kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ke Sidratul Muntaha hanya terjadi dalam semalam. Bayangkan dalam zaman ketika pemahaman manusia tentang sains dan teknologi belum seperti sekarang, seorang Abu Bakar Ash Shiddiq Ra. Sahabat yang suci bisa beriman dan menerima kebenaran cerita Rasulullan Saw tanpa sanggahan.
Begitu dekatnya jarak alam dunia (langit pertama) dengan alam akhirat (langit ketujuh) yang sangat dekat sudah digambarkan oleh hadist dari Jabir bin Abdullah. Ketika itu Rasulullah Saw didatangi oleh lelaki berwajah bersih dan berbaju putih (yang ternyata adalah malaikan Jibril as yang memasuki dimensi alam manusia) :
Bertanya orang itu lagi (yakni Jibril as), “Berapakah jaraknya dunia dengan akhirat?” Bersabda Rasulullah SAW, “Hanya sekejap mata saja.”
Wallahua’lam
Sebenarnya tulisan diatas saya rangkum dari berbagai sumber, tetapi sudah saya gabung2kan dengan teori yang menurut saya masih perlu dicari kebenarannya… kenapa? Karena seperti yang anda lihat diprofil, saya pencari kebenaran… ;p
Tapi kebenaran yang diungkap ini bukan untuk mencari fakta kesalahan, tetapi untuk menguatkan iman kita betapa maha agungnya Allah SWT sebagai pencipta.  Betapa luasnya alam semesta yang diciptakannya.  Hingga saat ini misteri 7 lapis langit ini masih banyak perdebatannya, karena maklum manusia ini penuh dengan logika dan terlalu rasional… maka Allah SWT menyuruh kita memperkuat iman baru akal fikiran, agar kita tidak sesat karena pemikiran kita sendiri.

PENGERTIAN MAQAM DAN MARTABAT

Dalam ilmu thariqat menuju pendalaman bertasawuf ada di kenal istilah “maqam”, maqam di sini bukanlah bermaksud makam atau kuburan, akan tetapi amaknanya adalah suatu tempat kedudukan sasaran saat seseorang hamba berdzikir atau bertawajjuh terhadap Allah Swt.
Secara dasarnya maqam merupakan tingkatan martabat seseorang hamba terhadap khalikNya, yang juga merupakan sesuatu keadaan tingkatannya seseorang sufi di hadapan tuhannya pada saat dalam perjalanan spritual dalam beribadah kepada Allah Swt.
Maqam ini terdiri dari beberapa tingkat atau tahapan seseorang dalam hasil ibadahnya yang di wujudkan dengan pelaksanaan dzikir pada tingkatan maqam tersebut, secara umum dalam thariqat naqsyabandi tingkatan maqam ini jumlahnya ada 7 (tujuh), yang di kenal juga dengan nama martabat tujuh, seseorang hamba yang menempuh perjalanan dzikir ini biasanya melalui bimbingan dari seseorang yang alim yang paham akan isi dari maqam ini setiap tingkatnya, seseorang hamba tidak di benarkan sembarangan menggunakan tahapan maqam ini sebelum menyelesaikan atau ada hasilnya pada riyadhah dzikir pada setiap maqam, ia harus ada mendapat hasil dari amalan pada maqam tersebut, jika memang layak berpindah kepada maqam selanjutnya menurut keterangan guru pembimbing tersebut, barulah ia boleh naik dzikirnya pada maqam yang selanjutnya atau di atasnya, begitu seterusnya. 


  Maqamat ini mempunyai arti dan makna yang sangat luas dan mengandung sesuatu yang serba rahasia, namun ia pada dasarnya adalah sebagai sarana pengobatan penyakit hati (sifat madzmumah atau buruk), agar seseorang hamba tersebut dapat mengerti akan beberapa sifat kebaikan yang di anjurkan oleh Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah Saw, tingkatan maqam ini jika berhasil amalan dzikirnya dapat menjadikan seseorang hamba mempunyai sifat dan budi pekerti yang baik dan di ridhai oleh Allah Swt, seperti ; taat, sabar, wara’, tawakkal, tawaddu’, ridha dan fanafillah, yang dapat pada akhirnya membuat seseorang ma’rifat dan mahabbah terhadap tuhannya.
 Martabat tujuh atau maqam yang 7 (tujuh) harus di lalui oleh seseorang hamba yang ingin mendekatkan dirinya kepada tuhannya, beberapa aliran thariqat sufi memang berbeda dalam menuntun pelajaran amalan dzikir ini kepada para jama’ahnya, lain thariqat lain pula caranya, namun tujuan tetap satu, yaitu menuju kepada Allah Swt dan hanya mengharapkan keridhaanNya semata, jika keseluruhan maqam ini berhasil di lalui oleh seseorang salik, maka salik tersebut akan mendapatkan perasaan khauf dan raja’, artinya timbul rasa takut dan timbul pengharapan kepada Allah Swt, ini rentetannya adalah bisa mencapai kepada mukasyafah, musyahadah dan timbul haqqul yakin yang sebenarnya terhadap Allah Swt.
Tingkat martabat seseorang hamba di hadapan Allah Swt mesti melalui beberapa proses sebagai berikut :
  1. Taubat;
  2. Memelihara diri dari perbuatan yang makruh, syubhat dan apalagi yang haram;
  3. Merasa miskin diri dari segalanya;
  4. Meninggalkan akan kesenangan dunia yang dapat merintangi hati terhadap tuhan yang maha esa;
  5. Meningkatkan kesabaran terhadap takdirNya;
  6. Meningkatkan ketaqwaan dan tawakkal kepadaNya;
  7. Melazimkan muraqabah (mengawasi atau instropeksi diri);
  8. Melazimkan renungan terhadap kebesaran Allah Swt;
  9. Meningkatkan hampir atau kedekatan diri terhadapNya dengan cara menetapkan ingatan kepadaNya;
  10. Mempunyai rasa takut, dan rasa takut ini hanya kepada Allah Swt saja.
Dengan melalui latihan di atas melalui amalan dzikir pada maqamat, maka seseorang hamba akan muncul sifat berikut :
  1. Ketenangan jiwa;
  2. Harap kepada Allah Swt;
  3. Selalu rindu kepadaNya dan suka meningkatkan ibadahnya;
  4. Muhibbah, cinta kepada Allah Swt.
Untuk mendapatkan point di atas, seseorang hamba harus melalui beberapa tingkatan maqam di bawah ini, tetapi melaluinya adalah amalan dzikir pada maqam yang 7 (tujuh), adapun hasilnya akan dapat di uraikan dengan beberapa maqam sifat, yaitu :
  • Taubat;
  • Zuhud;
  • Sabar;
  • Syukur;
  • Khauf (takut);
  • Raja’ (harap);
  • Tawakkal;
  • Ridha;
  • Muhibbah.
Uraian Ma’rifat
Mengenal akan dirinya secara awal dan akhir dari segala setiap perbuatan adalah di namakan dengan Ma’rifat, yang berarti juga secara singkat adalah kenal, wujud ma’rifat ini adalah ketetapan hati untuk mulai beribadah kepadaNya, apabila seseorang hamba mau beribadah kepada Allah Swt dengan mengagungkan dan mensucikannya dari yang lain dan mengakui akan ke-ESA-an Allah Swt, maka ini di namakan dengan ma’rifat atau kenal.
Kami berpendapat bahwa ma’rifat adalah awal dari segala perjuangan seseorang hamba menuju kepada tuhannya, sebab dengan mengenal ketuhananlah makanya seseorang hamba mau beribadah kepadaNya, jika seseorang hamba belum kenal akan tuhan walaupun hanya sebatas pengakuan saja maka sudah tentu ia tidak akan mau beribadah alias ingkar, oleh karena itu kami berpendapat bahwa ma’rifat awal dari seseorang hamba menuju tuhannya, sedangkan yang akhir adalah Hakikat yang artinya Mengerti akan hal yang sebenarnya segala sesuatu.
Pada dasarnya dalam hati setiap manusia terselip akan kebenaran Allah Swt atas alam ini, tetapi hal ini di tutup oleh segala penyakit bathin yang di tiupkan oleh iblis dan syaithan, makanya dalam menuju kepada Allah Swt memerlukan perjuangan yang berat dalam melawan peperangan hawa, nafsu, syaithan dan dunia.
Setiap manusia jika mau beribadah sudah tentu nafsunya saat itu tenang, maka ini adalah termasuk kategori ma’rifat juga, sebab jika tiada ketenangan maka seseorang hamba tidak jua akan mau beribadah, oleh karena itu sudah sepatutnya seseorang hamba jika sudah ada berkeinginan untuk beribadah, maka sesungguhnya itu adalah hidayah dariNya, maka hendaklah di ambil kesempatan tersebut untuk berbuat taat yang kuat, agar dapat menyingkap kebenaran dari setiap kebesaran Allah Swt, di karenakan dengan hasil riyadhah yang sungguh – sungguh hal ini dapat di ketahui.
Keadaan yang kosong saat memasuki hakikat akan di isi oleh Allah Swt berupa ilmu pengetahuan yang tidak di sangka – sangkanya, ini merupakan tujuan akhir seseorang sufi bertasawuf untuk mengenalNya, dan atas segala sesuatu tersebut adalah karunia dan hidayah dariNya.
Uraian Taubat
Dasar amalan yang harus di lalui oleh seseorang dalam menuju tuhannya adalah sebagai awalnya yaitu maqam taubat, sebelum bertaubat secara sungguh – sungguh kepada Allah Swt, tidak akan bisa seseorang naik kepada maqam berikutnya, karena ia masih banyak mempunyai dosa – dosa ahasil maksiat baik di sengaja maupun tidak.
Taubat menurut sufi adalah senantiasa tafakkur dan khalwat menyepikan diri untuk menyadari akan segala kesalahan yang di perbuat kepada Allah Swt dan mohon ampun kepadaNya.
Menyadari bahwa maksiatnya banyak dan istighfar dengan sesungguhnya, taubat akan segala dosa, taubat akan segala tipu daya hawa dan nafsu dunia serta meningkatkan amal ibadah sebanyak – banyaknya guna menunjukkan bakti taubat yang sebenarnya.
Jangan buruk sangka kepada Allah Swt bahwa taubatnya tidak di terima, namun dengan keyakinan penuh harus yakin bahwa taubatnya di terima, karena Allah Swt maha penerima taubat hambaNya yang sungguh – sungguh.
Uraian Zuhud
Zuhud ini ada 2 (dua) macam, yaitu :
1.        Zuhud Zhahir, yakni zuhud dari cara yang berlebih – lebihan pada dunia dan pada segala perhiasan dunia, apalagi pada yang haram, makruh dan mubah.
2.        Zuhud Bathin, yakni zuhud dari segala kebutuhan bathin yang bersifat penampilan zahir pada dunia, seperti mengejar jadi pemimpin yang otomatis akan menghela kepada hawa, nafsu dan dunia, hal ini adalah pantangan yang sangat besar bagi seseorang sufi yang bertasawuf.
Zuhud ini dapat di timbulkan dengan melalui tafakkur dan merenung atau berpikir akan kebesaran Allah Swt, jika ia benar – benar memikirkan hal ini, maka ia akan dapat kesimpulan bahwa dunia hanya tempat bagi manusia yang selain Allah Swt tujuannya, dia menyadari bahwa dunia hanyalah sebagai persinggahan dan berupa ladang sebagai pencari bekal bagi akhirat yang kekal, tiada yang lain di dunia ini hanya berisikan kesedihan dan kekeruhan, serta terbuai akan tipu daya syaithan.
Maqam zuhud tidak akan dapat di capai oleh seseorang jika di hatinya masih ada sifat keduniaan yang berlebihan, cintanya hanya pada kenikmatan dunia tanpa di sadari bahwa nikmat dunia itu hanyalah di berikan Allah Swt sebagai sarana untuk ibadah kepadaNya.
Seseorang hamba yang ingin menuju kepada Allah Swt, harus bisa menafikan dunia dan isinya yang berlebihan itu hanya kepada Allah Swt saja, jika tidak maka ia tidak akan dapat mengenal dirinya apalagi mengenalNya, sirnakanlah sifat keduniaan yang berlebihan agar dapat merasakan nikmatnya maqam zuhud ini dalam menuju Allah Swt.
Uraian Sabar
Sabar terbagi 3 (tiga) menurut saya, yaitu :
1.    Sabar akan kehidupan dunia dari yang haram, dan menahannya atas dari segala sifat berlebihan;
2.    Sabar dalam menjalankan kewajiban terhadap Allah Swt berikut ujian dan cobaanNya;
3.   Sabar atas segala khayal dan angan – angan yang muncul saat menjalankan kewajiban taat tersebut.
Sabar ini sangat luas maknanya, namun yang paling penting adalah sabar akan ketetapan Allah Swt terhadap kehidupan dunianya, jika ini dapat di atasi maka akan memperoleh kemenangan dunia dan akhirat, dalam menjalankan ibadah kepadaNya juga di tuntut kesabaran yang penuh, karena tidak juga terlepas dari ujian dan cobaanNya dalam menguji hambaNya yang menuju kepadaNya, hijrahlah dari sifat buruk kepada sifat yang baik, ini memerlukan perjuangan bathin yang berat, sebab syaithan senantiasa membuat tipu daya walaupun dengan berlindung dari ketaatan dengan cara menyelipkan syirik dalam beribadah.
Bersabar terhadap yang haram, ini juga berat, sebab dalam kehidupan dunia, yang sifatnya haram adalah nikmat dan asyik, sementara pada beramal ibadah sangat terasa berat baginya, ini di tuntut kesabaran penuh juga, agar dapat menjalankan ibadah secara rutin tanpa ada gangguan yang bersifat ingkar kepada Allah Swt, jika seseorang hamba dengan penuh perjuangan menempuh alam kesabaran ini, maka Allah Swt akan menariknya kepadaNya dengan menambah tingkat kesabaran hambaNya tersebut.
Hati – hatilah dalam beribadah, karena saat menjalankan ibadah sangat banyak di temui khayal dan angan – angan yang merupakan selainNya, ini tidak lain adalah kerjaannya para Iblis, Jin dan Syaithan. Mintalah selalu perlindungan kepada Allah Swt akan hal ini.
Uraian Syukur
Syukur juga terbagi 3 (tiga) bagian, yaitu :
1.        Syukur secara lisan, maksudnya mengucapkan syukur terhadap Allah Swt secara langsung melalui ucapan;
2.        Syukur secara jasmani, maksudnya menyampaikan rasa syukur dengan bersifat ketaatan kepada Allah Swt;
3.        Syukur secara khafi, maksudnya syukur dengan mengakui bahwa Allah Swt maha pemberi nikmat atas segala makhluk ciptaanNya dan mengakui hanya daripadaNya nikmat tersebut datang kepadanya, ini di buktikan dengan ketaatan dan pengakuan secara bathin.
 Syukur ini berbentuk taat pada Allah Swt bagi orang yang berilmu, ia semakin meningkatkan ketaatannya kepada Allah Swt dengan perbuatan zahir dan bathin, Syukur merupakan anugerah tuhan yang tak terhingga, ruang lingkupnya sangat luas, mulai dari keduniaan sampai pada amal ibadah, sadarilah bahwa sesungguhnya yang memberi kekuatan untuk beribadah kepadaNya adalah Allah Swt, bukanlah merupakan kekuatan dan kekuasaan diri sendiri akan perbuatan tersebut.
Manfaat Syukur ini sangat besar nilainya di sisi Allah Swt, jika seseorang hamba dapat menunjukkan Syukur ini secara ikhlas maka Allah Swt akan senantiasa menambah karuniaNya terhadap hamba yang mau bersyukur.
Kenikmatan pada hakikatnya adalah dari Allah Swt, jangan sampai seseorang hamba melupakan akan hal ini, jika ia lupa maka ia tidak akan sampai pada tujuannya untuk menuju kepadaNya, karena hal ini adalah salah satu syarat untuk sampai kepada Allah Swt.
Jika seseorang hamba dapat menunjukkan rasa syukur yang suci murni alias ikhlas kepadaNya, maka Allah Swt akan menambah kenikmatan berupa mengerti akan diriNya, ini adalah karunia terbesar bagi seseorang hamba yang mengaku bahwa tiada tuhan selain Allah Swt
Uraian Khauf
Seseorang hamba yang pada maqam bathinnya mulai bersih dari segala sifat yang buruk, maka akan menimbulkan rasa takut, dan rasa takut ini harus di tekankan adalah hanya takut pada Allah Swt saja, bukan pada yang lainnya, takut ia akan tersalah, baik tersalah akan dunianya apalagi tersalah akan amal ibadah kepada Allah Swt.
Takutlah kepada Allah Swt akan hukumnya yang sangat adil kelak, karena Allah Swt sangat adil dalam menghisab setiap amal perbuatan manusia yang baik ataupun buruk, tunjukkanlah rasa takut tersebut dengan lebih meningkatkan ibadah kepadaNya, takut ini sangat dekat pengaruhnya pada khayal dan angan – angan pada diri bathin manusia, hal sangat mudah di intervensi oleh iblis dan syaithan bagi seseorang hamba yang tidak beriman, munculnya rasa takut adalah sesungguhnya karuniaNya juga, agar manusia dapat mengerti akan bagaimana rasa takut terhadap khalikNya tersebut.
Perasaan ini tidak dapat di buat – buat, jika muncul maka pindahkanlah rasa takut tersebut hanya kepada Allah Swt, jika demikian maka Allah akan dapat menambah karunia nikmatnya berupa kedekatan kepadaNya, karena dia adalah dzat maha pelindung bagi hambaNya.
Uraian Ridha
Meningkatkan tawakkal kepada Allah Swt adalah merupakan ibadah yang besar nilainya di sisi Allah Swt, dengan perjuangan berat menetapkan ibadah dengan istiqamah akan menghasilkan pengertian ridha akan setiap Allah Swt terhadap dirinya, Allah Swt maha menentukan atas hambaNya, hamba yang sudah ikhlas amal ibadahnya akan menimbulkan sifat ridha, ini adalah karunia Allah Swt terhadap hambaNya yang shaleh dan taat.
Ia menyadari bahwa setiap segala sesuatu atas dunia dan pada dirinya adalah pada dasarnya merupakan kehendak Allah Swt, ia ridha akan kehidupan dunianya, tabah atas segala ujian dan cobaanNya, pasrah akan perjalanan takdirnya tanpa memohon untuk merubahnya kepada Allah Swt.
Hamba yang sudah mencapai tahap maqam ridha ini akan selalu merasa bahwa Allah Swt selalu bersamanya, segala gerak dan diamnya adalah merupakan kehendak dan karunia Allah Swt, ia tidak akan merasa susah walaupun dunianya susah, ia lebih memerlukan kehidupan akhiratnya yang kekal, di sanalah setiap akhir dari segala sesuatu ciptaanNya.
Uraian Muhibbah
Perasaan tertinggi yang di karuniakan oleh Allah Swt terhadap hambaNya adalah cinta (muhibbah), martabat ini muncul setelah segala tingkat sifat yang buruk sudah menjadi sifat yang baik dari hasil akhir mal ibadah dzikir pengibatan penyakit bathin oleh seseorang hamba.
Segala sifat baik tersebut bisa menjelma menjadi sifat cinta hanya kepada Allah Swt saja, setiap amal perbuatannya hanya berdasarkan cinta kepada Allah Swt tanpa mengharapkan pamrih apapun juga, sebab segala sesuatu ibadah baginya adalah kebutuhan utamanya, sementara dunia baginya adalah sekedar sarana untuk beribadah semata, setiap rezeki telah di jamin secara nyata di dunia ini oleh Allah Swt, segala gerak lakunya adalah ibadah, ini menunjukkan cinta yang tinggi terhadap khalikNya.
Senantiasa menjaga yang haram atas zahirnya, baik mata, telinga, kaki, tangan dan lain sebagainya, bathinnya selalu berkekalan ingat dan dekat padaNya, penjagaan Allah Swt atas seseorang hamba tingkat ini adalah merupakan suatu karunia tiada ternilai harganya bagi manusia di dunia.
Jadikanlah ibadah merupakan makanan pokok di dunia, maka atas izinNya kita akan mendapatkan rasa cinta terhadap Allah Swt ini dengan sebenarnya cinta tanpa ada campuran cinta dunia, sebab jika di hati seseorang hamba masih ada cinta dunia, maka belumlah dapat di katakan hamba tersebut pada tingkat maqam muhibbah.
Uraian Hakikat
Hakikat bisa di artikan dengan “yang sebenarnya atas sesuatu”, ini merupakan ciri – ciri seseorang hamba yang sudah mengerti akan dirinya yang sebenarnya dengan mata hatinya yang bersih dari kotoran dunia dan penyakit bathin, jika penyakit bathin masih melekat pada hatinya maka ia tidak akan mengerti pada dirinya apalagi terhadap tuhannya.
Penyaksian dan pengertian atas segala sesuatu yang telah di tentukan dan di takdirkan Allah Swt pada setiap sesuatu di alam semesta dan isinya berikut rahasia – rahasianya adalah di namakan dengan hakikat, ini di dapatkan oleh seseorang hamba yang telah di berikan oleh Allah Swt atas segala riyadhahnya dalam beramal ibadah kepadaNya untuk meningkatkan keyakinan seseorang hamba terhadap khalikNya.
Mengerti akan hakikat ini di dasarkan dari hal sebagai berikut :
1.        Yakin akan segala ciptaanNya dan benar adalah Allah Swt yang menciptakan alam beserta isinya, ini di namakan dengan ‘Ainul Yakin’.
2.        Yakin dengan dasar pemikiran yang jernih akan melihat kebesaran Allah Swt pada alam beserta isinya, ini di namakan dengan Ilmul Yakin.
3.        Yakin dengan di dasari dengan hati yang bersih dari kotoran atas kebesaran Allah Swt atas segala ciptaanNya, dan kebenaran ini di saksikan langsung oleh hatinya bersama keimanan yang teguh berdasarkan juga atas keputusan yang masuk akal, artinya zahir dan bathin yakin dengan sepenuhnya atas kebesaran Allah Swt, ini di namakan dengan Haqqul Yakin.
Hal inilah tujuan daripada sufi dengan bertasawuf yang menghasilkan mata hati yang jernih akan kebesaran Allah Swt atas segala af’al, sifat, asma, dzat dan tajallinya pada alam dan segala ciptaanNya dengan tingkat iman tertinggi dari seseorang hamba, ini merupakan karunia hidayah Allah Swt terhadap hambaNya yang ridha akan segala ketentuanNya atas dirinya, atas pengalaman bathin ini maka akan dapat mempertahankan tingkat keimanan seseorang hamba.
Demikianlah yang dapat kami sampaikan mengenai pembahasan maqamat tingkatan martabat seseorang hamba yang harus di lakukan untuk menuju Allah Swt dan keridhaanNya.